Fhandy Pandey

Energy Technical Expert

Geothermal Enginer

GHG Verifier

GHG Validator

GHG Consultant

Fhandy Pandey

Energy Technical Expert

Geothermal Enginer

GHG Verifier

GHG Validator

GHG Consultant

Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) run-off river berkapasitas 6 Megawatt

  • Judul Kegiatan: Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) run-off river berkapasitas 6 Megawatt
  • Metodologi: Pengoperasian pembangkit listrik tenaga air run-of-river yang terhubung ke sistem interkoneksi tenaga listrik (on-grid) - MSEP 001
  • Pelaku Mitigasi: PT Sahung Brantas Energi
  • Lingkup Sektor: Energi

PT Sahung Brantas Energi telah membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) run-off river berkapasitas 6 MW dengan memanfaatkan aliran air sungai Padang Guci tanpa memotong aliran sungai tersebut. Lokasi proyek berada di Desa Bungin Tambun, Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Proyek ini dibangun di atas lahan sekitar ± 15 hektar dengan biaya investasi sekitar 126 milyar rupiah. Proyek ini, yang disebut PLTM Padang Guci 1, merupakan aksi mitigasi greenfield melalui inisiatif pengembangan renewable energy (RE), untuk menyediakan listrik bersih rendah emisi GRK di Provinsi Bengkulu. Proyek ini mulai beroperasi secara komersial (COD) pada tanggal 14 April 2017.

Aksi mitigasi ini dimaksudkan untuk memasok listrik ke jaringan PLN berdasarkan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) antara PT Sahung Brantas Energi dengan PT PLN (Persero), ditandatangani pada 14 April 2017. Berdasarkan PJBL ini, operasi pembangkit ditetapkan untuk melayani operasi base-load (kontinu 24 jam sepanjang tahun), dengan capacity factor (CF) sekitar 65%, jangka waktu kontrak 20 tahun take-and-pay dan 5 tahun take-or-pay, dan menyalurkan listrik bersih sekitar 6 MW ke jaringan tegangan menengah PLN 20 kV—Gardu Induk (GI) Manna. Sumber utama aliran pembangkit PLTM diperoleh dari aliran hulu sungai Padang Guci yang merupakan titik temu beberapa anak sungai. Untuk memaksimalkan kapasitas aliran hulu sungai, PT Sahung Brantas Energi juga membangun bangunan bendung (weir) di hulu sungai Padang Guci untuk meninggikan muka aliran air.

Pembangkit dioperasikan secara kontinu dengan kapasitas aliran air kiriman bangunan bendung sebesar 18 m3/detik. Selanjutnya aliran air dikirimkan menuju bak penenang (headpond) untuk dialirkan menuju gedung sentral (powerhouse). Setelah aliran air selesai digunakan untuk memproduksi listrik, aliran air dikembalikan ke hilir sungai Padang Guci melalui saluran pembuang (tail race). Fasilitas utama yang tercakup dalam PLTM adalah (i) fasilitas bangunan bendung dan bangunan pengambilan (intake); (ii) saluran penghantar (waterway); (iii) bak penenang dan pipa pesat (penstock); serta (iv) gedung sentral (powerhouse) yang terdiri dari turbin, generator dan saluran pembuang. PLTM Padang Guci 1 menggunakan 3 unit turbin-generator dengan kapasitas masing-masing 2 MW dengan kinerja efisiensi sebesar 81% (disebut konfigurasi 3 x 2 MW). Listrik yang digenerasi sebagian besar disalurkan ke jaringan PLN dan sisanya (sekitar 0,83% dari total pembangkitan dengan nilai maksimal 50 kW) digunakan untuk kebutuhan internal pembangkit (internal energy consumption). PLTM Padang Guci 1 juga menyediakan genset 100 kVA yang akan beroperasi secara otomatis saat terjadi keadaan darurat berupa pemadaman listrik, seperti ketika pemadaman dari PLN dan/atau gangguan jaringan.

Aksi mitigasi yang dilakukan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro on-grid berbasis run-off river, yang mengambil aliran hulu sungai Padang Guci tanpa memutus aliran utama sungai tersebut. Sesuai dengan metodologi yang digunakan, MSEP-001 “Pengoperasian listrik tenaga air run-off river yang terhubung ke sistem interkoneksi tenaga listrik (on-grid)”, emisi pada skenario baseline adalah “Emisi GRK yang timbul jika PLTA RoR tidak dibangun dan beroperasi. Diasumsikan bahwa tanpa PLTA RoR, maka sebuah daerah akan mendapatkan listrik dari jaringan listrik (on-grid). Sehingga emisi baseline dihitung dengan mengalikan produksi listrik neto aksi mitigasi dengan Faktor Emisi GRK Sistem Ketenagalistrikan.” Oleh karena itu, skenario pra-aksi mitigasi dan skenario baseline adalah sama, yaitu emisi GRK yang timbul karena pembangkitan listrik pada jaringan listrik yang menggunakan karbon secara lebih intensif.

Aksi mitigasi PLTM Padang Guci I diestimastikan dapat mereduksi emisi GRK sebesar 30.153 tCO2 per tahun atau menggantikan produksi listrik setara dengan 33,88 GWh per tahun yang dihasilkan melalui daya operasi dari berbagai pembangkit listrik dengan kombinasi pembangkit listrik tenaga fosil yang terkoneksi di jaringan.

Kontribusi terhadap Pembangunan Berkelanjutan

Kontribusi aksi mitigasi terhadap pembangunan berkelanjutan masyarakat di sekitar PLTM Padang Guci 1 dilakukan berdasarkan beberapa aspek pembangunan berkelanjutan sebagai berikut:

Keberlanjutan Lingkungan (Environmental Sustainability)

  1. Aksi mitigasi PLTM akan mengurangi emisi GRK dengan menambah bauran energi terbarukan yang bebas emisi ke jaringan ketenagalistrikan Sistem Bintuhan. Walaupun pada PLTM Padang Guci I terdapat genset 100 kVA berbahan bakar solar yang beroperasi pada kondisi darurat, emisi akibat pengoperasiannya sangatlah minim.
  2. PLTM Padang Guci I juga tidak mengubah kualitas air sekitar karena PLTM hanya memanfaatkan aliran air tanpa merubah karakteristiknya serta bahan unit pembangkit telah sesuai standar.

Keberlanjutan Ekonomi (Economic Sustainability)

PLTM berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar PLTM melalui program-program Corporate Social Response (CSR), dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Kaur dengan membayarkan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) dan retribusi perizinan.

Keberlanjutan Sosial (Social Sustainability)

Aksi mitigasi PLTM tidak hanya mengurangi dampak pemanasan global, tapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar untuk posisi mandor, tukang, buruh, dan tenaga konstruksi lainnya. Terbuka juga lapangan pekerjaan house keeping untuk merawat bangunan kantor dan mess pekerja. Serta, terbuka juga peluang usaha untuk warga sekitar di sepanjang area PLTM seperti membuka warung, jasa, dsb. Dengan dibangunnya PLTM Padang Guci 1 mengakibatkan peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar PLTM.

Transfer Teknologi (Technology Transfer)

Aksi mitigasi PLTM berupa pemanfaatan aliran air sungai Padang Guci. Sebelum kegiatan aksi mitigasi, kebutuhan listrik Sistem Bintuhan dipasok oleh GI Manna (1 x 150 kV) dan PLTD Sewa Bintuhan berkapasitas 5 MW. Peran PLTM Padang Guci 1 adalah untuk membangkitkan listrik bersih dari sumber energi sekitar, dan menggantikan fungsi PLTD Bintuhan pada jaringan 20 kV eksisting.